Sabtu, 24 September 2011

Makalah tentang Akhlaq Diri


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Islam mengajarkan bahwa akhlaq menempati kedudukan yang sangat penting karena akhlaq mengajarkan kita tentang nilai-nilai baik dan buruk, terpuji dan tercela yang dijadikan sebagai pedoman hidup manusia dalam segala aspek kehidupan serta yang berlaku sampai kapanpun dan dimanapun, tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan makhluk dengan khaliknya. Dalam masalah ketergantungan, hidup manusia selalu mempunyai ketergantungan kepada yang lain dan tumpuan serta pokok ketergantungan adalah ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Sempurna, ialah Allah Rabbul ’alamin, Allah Tuhan Maha Esa.

Kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat tergantung kepada izin dan ridha Allah. Oleh karena itu Allah memberikan ketentuan-ketentuan agar manusia dapat mencapainya. Maka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat itu dengan sendirinya kita harus mengikuti ketentuan-ketentuan dari Allah SWT.

Dengan menerapkan akhlaq yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah mengenai nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan umat manusia, manusia tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang semu melainkan kebahagiaan yang nyata.

Hal tersebut yang menjadikan kelompok kami sangat tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai akhlaq pribadi. Dalam paper ini kami akan membahas dan menjabarkan lebih dalam mengenai pengertian akhlak, macam-macam akhlak pribadi beserta bentuk-bentuknya.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam paper ini rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1. Apakah pengertian akhlak?
2. Apa saja macam-macam akhlak pribadi beserta bentuk perbuatannya?

1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan paper ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi gambaran mengenai akhlak pribadi.
2. Memberi gambaran mengenai macam-macam akhlak beserta bentuk perbuatannya.

1.4 Manfaat
Dengan adanya pemahaman yang baik mengenai akhlak pribadi dan bentuk-bentuk perbuatan shidiq, amanah, istiqomah, iffah, mujahadah, syaja’ah, tawadlu, zuhud, sabar dan pemaaf, diharapkan kita bisa mengambil ilmu, pemahaman serta bisa menerapkannya dalam kehidupan pribadi yang pengaruhnya juga akan dapat dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akhlak

Secara etimologis pengertian akhlaq adalah bentuk jamak dari khuluk yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan).

Kesamaan kata di atas memberitahukan bahwa dalam akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan perilaku makhluq (manusia). Dengan kata lain, tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki apabila tindakan atau perilakunya tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan).

Dari pengertian etimologis dapat disimpulkan bahwa akhlak tidak hanya tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia saja melainkan juga norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta sekalipun.

Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Ibrahim Anis menyebutkan bahwa ahklak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.

Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidan akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih malakukan atau meninggalkannya.

Pengertian akhlaq secara terminologis yang dikutip diatas sepakat menyatakan bahwa akhlak atau khuluq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.

2.2 Macam-Macam Akhlak dan Bentuknya

Allah SWT membagi macam-macam akhlak dalam sepuluh perbuatan. Macam-macam perbuatan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Shidiq
Shidiq (ash-sidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib). Seorang muslim dituntut untuk selalu benar lahir batin, benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-hadist) dan benar perbuatan (shidq al-amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.

Bentuk-bentuk shidiq:
a. Benar perkataan (shidq al-hadist)
b. Benar Pergaulan (shidq al-mu’amalah)
c. Benar kemauan (shidq al-‘azam)
d. Benar janji (shidq al-wa’ad)
e. Benar kenyataan (shidq al-hal)

Lawan dari shidiq adalah bohong dan yang termasuk bentuk kebohongan dalam masyarakat antara lain khianat, mungkir janji, kesaksian palsu, fitnah dan gunjing.

2) Amanah
Amanah dalam pengertian yang sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam pengertian yang luas amanah mencakup banyak hal seperti menyimpan rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga dirinya sendiri, menunaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, dll.

Bentuk-bentuk amanah antara lain:
a. Memelihara titipan dan mengembalikannya seperti semula
b. Menjaga rahasia
c. Tidak menyalahgunakan jabatan
d. Menunaikan kewajiban dengan baik
e. Memelihara semua nikmat yang diberikan Allah

Lawan kata dari amanah adalah khianat, sifat kaum munafik yang sangat dibenci oleh Allah SWT, apalahi apabila yang dikhianatinya adalah Allah SWT dan Rasul-Nya.

3) Istiqamah
Secara etimologis, istiqamah berasal dari kata istaqama-yastaqimu yang berarti tegak lurus. Dalam terminologi Akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.

Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup tiga dimensi: hati, lisan dan amal perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dengan ketiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam.

4) Iffah
Iffah merupakan bentuk masdar dari Affa-ya’iffu‘iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, juga berarti kesucian tubuh. Dari sudut pandang yang berbeda, iffah berarti memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkanya.

Beberapa contoh berdasarkan Al Qur’an dan Hadis:
a. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah seksual, seorang muslim dan muslimah diperintahkan untuk menjaga penglihatan, pergaulan dan pakaian.
b. Menjaga diri dari hubungannya dengan masalah harta. Islam mengajarkan terutama bagi orang miskin untuk tidak menadahkan tangan meminta-minta. Al Qur’an menganjurkan kepada orang-orang berpunya untuk membantu orang-orang miskin yang tidak mau memohon bantuan karena sikap iffah mereka.
c. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan kepercayaan orang lain kepada dirinya seseorang harus betul-betul menjauhi segala macam bentuk ketidakjujuran.

5) Mujahadah
Dalam konteks akhlaq, mujahadah adalah mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah SWT, baik hambatan yang bersifat internal maupun eksternal. Untuk mengatasi hambatan tersebut diperlukan kemauan dan perjuangna yang sungguh-sunggguh.Apabila seorang bermujahadah untuk mencari keridhaan Allah SWT, maka Allah berjanji akan menunjukan jalan kepadanya untuk mencapai tujuan tersebut.

Secara terperinci objek mujahadah ada enam hal, yaitu:
a. Jiwa yang selalu mendorong seseorang untuk melakukan kedurhakaan atau dalam istilah Al-Qur’an fujur.
b. Hawa nafsu yang tidak terkendali, yang menyebabkan seseorang melakukan apa saja untuk memenuhi hawa nafsunya itu tnpa mempedulikan larangan-larangan Allah SWT dan tanpa mempedulikan mudharat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
c. Syaithan yang selalu menggoda umat manusia untuk memperturutkan hawa nafsu sehingga mereka lupa kepada Allah SWT dan untuk selanjutnya lupa kepada diri mereka sendiri.
d. Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan sehingga mengalahkan kecintaannya kepada Akhirat, padahal keberadaan manusia didunia hanya bersifat sementara, secara individual sampai maut datang menjemput, dan secara umum sampai kiamat datang. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan di akhirat.
e. Orang-orang kafir dan munafik yang tidak pernah puas hati sebelum orang-orang yang beriman kembali menjadi kufur.
f. Para pelaku kemaksiatan dan kemungkaran, termasuk dari orang-orang yang mengaku beriman sendiri, yang tidak hanya merugikan mereka sendiri, tapi juga merugikan masyarakat.

6) Syaja’ah
Syaja’ah artinya berani, tapi bukan berani dalam arti siap menantang siapa saja tanpa mempedulikan apakah dia berada di pihak yang benar atau salah, dan bukan pula berani memperturutkan hawa nafsu. Keberanian tidaklah ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa.

Bentuk-bentuk keberanian yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah
a. Keberanian menghadapi musuh dalam peperangan (jihad fi sabilillah).
b. Keberanian menyatakan kebenaran sekalipun dihadapan penguasa zalim.
c. Keberanian untuk mengendalikan diri tatkala marah sekalipun dia mampu melampiaskannya.

Menurut Raid Abdul Hadi dalam bukunya Mamarat al-Haq, ada tujuh faktor yang membuat seseorang memiliki keberanian antara lain:

a. Rasa takut kepada Allah SWT
Takut kepada Allah membuat seseorang tidak takut kepada siapapun selama dia yakin bahwa yang dilakukannya adalah dalam rangka menjalankan perintahnya.
b. Lebih mencintai akhirat daripada dunia
Bagi seorang muslim dunia bukanlah tujuan akhir, dunia adalah jembatan menuju akhirat. Oleh karena itu dia tidak akan ragu meninggalkan dunia asalkan dia mendapatkan kebahagiaan di akhirat.
c. Tidak takut mati
Kematian merupakan suatu kepastian, cepat atau lambat karena setiap manusia pasti mati. Kalau ajal sudah datang tidak ada yang dapat mencegahnya.

7) Tawadlu
Merendahkan diri (tawadlu) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Tawadlu juga bisa diartikan rendah hati atau tidak sombong. Orang yang tawadlu adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.

Dengan pemahaman tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.

Tawadlu juga diartikan bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita. Tawadlu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia, jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadlu karena tawadlu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam.

Tanda orang yang tawadlu adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadlu dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama.

Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka. Hal ini dikarenakan orang yang tawadlu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.

Jika anda mengangkat kepala di hadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya, atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu’ dan anda memiliki benih sifat sombong.

Macam tawadlu dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Tawadlu yang terpuji yaitu ke-tawadlu-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.
2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya.

8) Zuhud
Arti kata zuhud adalah tidak ingin kepada sesuatu dengan meninggalkannya. Menurut istilah zuhud adalah berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akherat.

Ada 3 tingkatan zuhud yaitu:
1. Tingkat Mubtadi’ (tingkat pemula) yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya pun tidak ingin memilikinya.
2. Tingkat Mutahaqqiq yaitu orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta benda duniawi karena ia tahu dunia ini tidak mendatangkan keuntungan baginya.
3. Tingkat Alim Muyaqqin yaitu orang yang tidak lagi memandang dunia ini mempunyai nilai, karena dunia hanya melalaikan orang dari mengingat Allah. (menurut Abu Nasr As Sarraj At Tusi)

Menurut AI Gazali membagi zuhud juga dalam tiga tingkatan yaitu:
1. Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari padanya.
2. Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakheratan.
3. Meninggalkan segala sesuatu selain Allah karena terlalu mencintai-Nya

Dalam keterangan di atas dapat disimpulkan pandangan bahwa harta benda adalah sesuatu yang harus dihindari karena dianggap dapat memalingkan hati, dari mengingat tujuan perjalanan sufi yaitu Allah. Namun ada yang berpendapat bahwa zuhud bukan berarti semata-mata tidak mau memiliki harta benda dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi, tetapi sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah.

9) Sabar dan Pemaaf
Sabar berasal dari assabru yang artinya adalah menahan. Karena sabar itu adalah menahan berarti sabar adalah suatu aktivitas bukan pasivitas, suatu perlawanan bukan suatu penyerahan, suatu yang memerlukan pengorbanan. Misalnya kita merasa kesal kepada orang lain karena ada ketidakcocokan atau karena ia melakukan suatu kessalahan dan ingin rasanya melampiaskan kekesalan dan kebencian, maka keinginan semacam itu kita tahan, itu namanya sabar.

Dan misalnya kita dihina dan disakiti hatinya oleh orang lain maka muncul reaksi negatif di dalam diri kita, kemudian kita marah dengan orang tersebut dan ingin rasanya melampiaskan kemarahan kepada orang yang menghina dan memfitnah kita, maka keinginan seperti itu ditahan. Menahan keinginan semacam itu dan melakukan penahanan pada saat itu dinamakan memaafkan.

Berkenaan dengan kemarahan, Imam Al-Ghazali pernah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin melampiaskan kemarahan. Bahwa kesabaran seseorang memang ada batasnya dan pada saatnya telah melampaui ambang batas itu sangat wajar jika seseorang harus marah. Hanya saja yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengukur kadar marah sesuai dengan tingkat kesalahan orang yang membuat kita marah, dan juga dilampiaskan masih dalam kewajaran dan di bawah kesadaran yang tinggi.

Kita boleh marah dalam hal meluruskan sesuatu yang salah demi kemaslahatan bersama dimana niat kita semata-mata untuk memperoleh keridlaan Allah. Kita tidak boleh marah karena keinginan kita supaya ditakuti orang lain atau karena ingin memperoleh kewibawaan dari kemarahan tersebut. Kita juga tidak boleh marah karena rasa kekesalan dan kebencian kita terhadap orang lain.

Kita sesama muslim bukanlah saling bermusuhan, tetapi adalah bersaudara. Karena Salah satu sifat yang menggambarkan seseorang itu berakhlak islami dan seorang muslim yakni sifat pemaaf dan sabar. Maka jangan sampai kita menjadi penyemai maupun pemupuk rasa kebencian di tengah-tengah masyarakat. Jika kita temui bibit-bibit kemarahan dan kebencian di tengah-tengah kita maka marilah bersama-sama kita redam dengan sabar dan amar ma’ruf nahi munkar.






Akhlak Pribadi
A.Latar Belakang
Belakangan ini kita sering mendengar berita-berita tentang banyaknya akhlak-akhlak para pemuda yang rusak. Di lingkungan pelajar dan mahasiswa misalnya, sering kita dengar tawuran antar pelajar, siswa-siswi yang tidak berakhlak, dan pergaulan bebas. Oleh karena itu siapapun yang mendambakan keselamatan dan keberuntungan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain baginya kecuali dengan tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Menyucikan diri dari kefasikan, keburukan amalnya dan akhlak yang buruk.
Bagaimanakah cara dan metode menyucikan diri yang benar? Adakah metode-metode yang khusus yang lazim dilakukan oleh orang yang akan memperbaiki akhlaknya? Apakah pengalaman pribadi, perasaan seseorang dan bisikan hati bisa dijadikan landasan amal dalam hal ini?
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan oleh manusia tanpa petujuk dari Rasul mereka. Tidak terkecuali dalam masalah perbaikan akhlak, hendaknya kita kembalikan kepada petunjuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, sebagai satu-satunya manusia yang ahli di bidang tersebut.
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, sesungguhnya memperbaiki akhlak dengan tujuan membentuk akhlak yang mulia merupakan faktor utama bagi kekuatan dan keagungan umat. Sesungguhnya nilai suatu umat itu terdapat pada akhlaknya. Jika akhlak itu hilang maka hilang pula nilai umat tersebut. Karena itulah perbaikan akhlak memiliki peranan yang sangat penting, karena dia sangat berpengaruh bagi baik atau buruknya suatu umat.
Di samping itu perbaikan akhlak menjadi landasan tegaknya perintah-perintah Allâh Ta'ala di dalam jiwa manusia. Jika jiwa manusia dibiasakan dengan akhlak mulia dan lurus, niscaya jiwa tersebut akan senang dan bangga dalam mengagungkan syiar-syiar Allâh Ta'ala dan berjalan diatas manhaj-Nya.
1
B.Akhlak Pribadi Unggul
Keberadaan akhlak mulia bagi setiap pribadi unggul, adalah buah dari keimanan yang kental. Dan ini merupakan kekayaan yang tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sejak awal, kita harus berusaha memburu keilmuan tentang itu sebagai bekal dalam membangun kehidupan.
Berikut ini, ada beberapa nilai akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan, sehingga patut dikedepankan bagi setiap muslim dalam melahirkan individu/pribadi unggul.
1.Ikhlas
Ikhlas adalah inti dari setiap ibadah dan perbuatan seorang muslim. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Bayyinah : 5, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (keikhlasan) kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."
2.Amanah
Yaitu sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Dalam suatu sumber menyebutkan, amanah adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan, dan roh kepada keadilan. Singkatnya, amanah berarti sesuatu yang dipercayakan, sehingga kita harus menjaga amanah tersebut. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertakwalah kepada Allah Tuhannya." (QS. Al-Baqarah : 283).


2
3.Adil
Bersifat adil, berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil kepada beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/pimpinan, dan sesama saudara. Nabi SAW bersabda :
"Tiga perkara yang menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika bersendirian dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah, dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri." (HR. Abu Syeikh).
4.Bersyukur
Bersyukur pada tataran menjadi pribadi unggul berlaku pada dua keadaan. (1) Sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah sama, baik sedikit atau banyak. (2) Bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah, supaya kebajikan senantiasa dibalas dengan kebajikan. Allah berfirman, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan sekiranya kamu mengingkari (kufur nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (QS. Ibrahim : 7).
5.Tekun
Ketekunan ini tidak lain adalah usaha dengan rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh. Islam sendiri, jauh-jauh hari telah menggalakan umatnya untuk tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan. Sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan berjaya. Nabi SAW dalam sabdanya menyebutkan, "Sesungguhnya Allah SWT menyukai apabila seseorang bekerja, dia melakukan dengan tekun." (HR. Abu Daud).

3
6.Disiplin
Yaitu ketaatan pada aturan dan tata tertib. Untuk itu, berdisiplin dalam menjalankan suatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Sehingga perilaku disiplin ini, akan mengantarkan hasrat negara untuk menjadi maju dan unggul dapat dicapai lebih cepat lagi, bila dibandingkan dengan perilaku tidak disiplin.
7.Sabar
Yaitu sifat tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah; tidak lekas patah hati; tidak lepas putus asa; dan sebagainya). Di dalam menghadapi cobaan hidup, ternyata kesabaran ini sangat penting untuk membentuk individu/pribadi unggul.
C.Membentuk Pribadi Berakhlak Mulia
• Akidah (Keyakinan) Yang Benar
• Berdo’a kepada Allah SWT
• Mujahadah (Perjuangan)
• Muhasabah (Intropeksi Diri)
• Tafakkur (Merenung) Dampak positif dari Akhlak Mulia
• Melihat dampak negatif dari akhlak tercela
• Jangan Pernah Berputus Asa
• Bercita – cita yang Tinggi
• Berpaling dari orang-orang yang bodoh (Jahil)
• Terbuka dengan Kritikan dan Saran
• Bersahabat dengan orang memiliki akhlak mulia
• Membaca Buku-buku tentang akhlak


4
D.Beberapa Faktor yang Berpengaruh Terhadap Akhlak Seseorang:
1.Lingkungan (masyarakat)
Karena lingkungan termasuk konsekwensi pada akhlak sesorang, jika Allah l mengadzab suatu kaum, maka bisa saja orang yang soleh sekalipun apabila Allah berkehendak, maka ia juga takkan luput dari adzab tersebut. Oleh karena itu, perhatikan dan mawas lingkunganlah selalu agar tidak terjadi apa yang ditakutkan dari buruknya akhlak seseorang.
2.Sifat sombong
Sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”
3.Ilmu yang benar
Inilah faktor yang paling berpengaruh dalam baiknya akhlak seseorang. Jika seseorang telah membekali dirinya dengan ilmu yang benar, maka konsekwensinya adalah mengamalkan ilmu tersebut. Semakin berilmu seseorang, semakin tawadhu’ pula sifatnya. Dan ini mendorongnya untuk selalu mengintropeksi akhlaknya dengan ilmu-ilmu yang telah ia dapatkan.
E.Krisis Moral dan Kepribadian
Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, dalam hal ini masyarakat mungkin mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.
5
Penyebab terjadinya krisis moral adalah :
• Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai, misalnya etika dan estetika.
• Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya.
• Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral.
• Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral.
Krisis moral ini menimbulkan begitu banyak ketidakseimbangan di dalam masyarakat yang tentunya tidak membuat masyarakat bahagia. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu : Kembali menempuh jalan Allah , kembali kepada jalan islam. “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38)
F.Akhlak Dalam Semua Sisi Kehidupan
Akhlak adalah nilai pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural, dan refleks. Jadi, jika nilai islam mencakup semua sektor kehidupan manusia, maka perintah beramal shalih pun mencakup semua sektor kehidupan manusia itu.
Akhlak = Iman + Amal Shalih
Maka akhlak Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki individu manusia dan merekonstruksi visi, membangun mentalitas, serta membentuk akhlak dan karakternya. Demikianlah, Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki masyarakat manusia dan mereformasi sistem, serta membangun budaya dan mengembangkan peradabannya.

6

KESIMPULAN

Orang yang memiliki sifat-sifat unggul tersebut, akan sangat beruntung karena ia mampu mengemudi hidupnya dengan "kesempurnaan". Dan kondisi demikian, membuat seseorang dapat berperan dengan baik kepada dirinya dan alam sekitarnya.

Seseorang yang berakhlak mulia, akan pantang berbohong terhadap diri sendiri dan tidak pernah menipu dan menyesatkan orang lain.
Orang seprti ini biasanya dapat hidup dengan tenang dan damai, mempunyai pergaulan luas dan banyak relasi, serta dihargai oleh siapapun yang mengenalnya. Ketentraman hidup orang yang berakhlak mulia juga disukung oleh perasaan optimis menghadapi kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Merubah tabiat sesorang merupakan hal yang sulit dilakukan, akan tetapi bukan berarti hal ini tidak mungkin atau mustahil untuk dilakukan. Sesungguhnya banyak sebab dan sarana yang dapat menghantarkan seseorang menggapai akhlak mulia.












Akhlak Islam, Pembentuk Pribadi Unggul

Penulis : Arda Dinata
Kehadiran Islam jelas-jelas merupakan kebaikan dan keselamatan bagi umat manusia. Pada masa awal Islam dan era Khulafaur Rasyidin, tak dipungkiri bahwa keluarga muslim telah mendapatkan kebahagiaan. Kuncinya, disebabkan ia memformat sesuai dengan manhaj yang lurus. Yaitu semua usaha kedua orangtua yang dicurahkan untuk mendidik anak-anaknya dalam naungan agama (Islam), melejitkan mereka untuk mencintai Allah dan bertakwa kepadaNya, dan menanamkan akhlak mulia (akhlak Islam) dalam diri keluarga mereka.

Akhlak mulia ini merupakan cerminan keimanan dan amal shaleh seseorang. Dan akhlak mulia juga merupakan ciri-ciri keunggulan manusia, disamping tentunya berupa keimanan yang utuh dan amal ibadah itu sendiri, baik yang khususiah maupun fardhu kifayah.

Atas dasar itu, pantas saja Islam mengajarkan dalam landasan memilih pasangan hidup (baca : baik bagi pihak lelaki maupun wanita), berpedoman pada landasan keshalehan yang benar dan keterkaitan/jalinan yang utuh kepada Allah dan RasulNya. Nabi SAW bersabda, "Jika datang seorang pelamar yang bagus agamanya kepadamu, maka kawinkanlah dia. Karena jika tidak, akan terjadi fitnah di atas bumi dan banyak kerusakan." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Batasan seperti itulah, kiranya yang patut menjadi dasar setiap muslim/muslimah dalam berusaha membangun sebuah ikatan keluarga sakinah.
***
Akhlak Pribadi Unggul

Keberadaan akhlak mulia bagi setiap pribadi unggul, adalah buah dari keimanan yang kental. Dan ini merupakan kekayaan yang tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sejak awal, kita harus berusaha memburu keilmuan tentang itu sebagai bekal dalam membangun kehidupan.

Dalam hal ini, kita telah sepakat bahwa kemuliaan akhlak bangsa ini akan tumbuh dengan baik, bila individu-individu dalam keluarga itu telah memiliki akhlak mulia. Dan Rasulullah SAW adalah contoh utama pembentuk akhlak dalam kehidupan setiap muslim. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad).

Harapan demikian, insya Allah akan terwujud, manakala setiap diri kita meniatkan secara sungguh-sungguh lagi ikhlas mengharap ridhaNya. Sehingga dari sini, akan terbentuk sebuah tatanan yang terjalin dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Dan melalui nilai-nilai ini dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat, maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmonis, dan diselimuti ruhiah Islam.

Berikut ini, ada beberapa nilai akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan, sehingga patut dikedepankan bagi setiap muslim dalam melahirkan individu/pribadi unggul. Pertama, ikhlas. Ikhlas adalah inti dari setiap ibadah dan perbuatan seorang muslim. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Bayyinah : 5, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (keikhlasan) kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Anggota masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan mencapai kebaikan lahir-bathin dan dunia-akherat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, perdamaian, serta kesejahteraan. Nabi SAW bersabda, "Bahagialah dengan limpahan kebaikan bagi orang-orang yang bila dihadiri (berada dalam kumpulan) tidak dikenal, tetapi apabila tidak hadir tidak pula kehilangan. Mereka itulah pelita hidayah. Tersisih daripada mereka segala fitnah dan angkara orang yang dzalim." (HR. Imam Al-Baihaqi).

Kedua, amanah. Yaitu sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Dalam suatu sumber menyebutkan, amanah adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan, dan roh kepada keadilan. Singkatnya, amanah berarti sesuatu yang dipercayakan, sehingga kita harus menjaga amanah tersebut. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an, "Maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertakwalah kepada Allah Tuhannya." (QS. Al-Baqarah : 283).

Ketiga, adil. Bersifat adil, berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil kepada beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/pimpinan, dan sesama saudara. Nabi SAW bersabda, "Tiga perkara yang menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika bersendirian dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah, dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri." (HR. Abu Syeikh).

Keempat, bersyukur. Bersyukur pada tataran menjadi pribadi unggul berlaku pada dua keadaan. (1) Sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah sama, baik sedikit atau banyak. (2) Bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah, supaya kebajikan senantiasa dibalas dengan kebajikan. Allah berfirman, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan sekiranya kamu mengingkari (kufur nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (QS. Ibrahim : 7).

Kelima, tekun. Ketekunan ini tidak lain adalah usaha dengan rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh. Islam sendiri, jauh-jauh hari telah menggalakan umatnya untuk tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan. Sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan berjaya. Nabi SAW dalam sabdanya menyebutkan, "Sesungguhnya Allah SWT menyukai apabila seseorang bekerja, dia melakukan dengan tekun." (HR. Abu Daud).

Perilaku ketekunan seseorang ini, maka akan meningkatkan produktivitasnya, melahirkan suasana kerja yang aman, dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat sekitarnya.

Keenam, disiplin. Yaitu ketaatan pada aturan dan tata tertib. Untuk itu, berdisiplin dalam menjalankan suatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Sehingga perilaku disiplin ini, akan mengantarkan hasrat negara untuk menjadi maju dan unggul dapat dicapai lebih cepat lagi, bila dibandingkan dengan perilaku tidak disiplin.

Lebih dari itu, dengan berdisiplin diri, seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang serta prestatif (unggul).

Ketujuh, sabar. Yaitu sifat tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah; tidak lekas patah hati; tidak lepas putus asa; dan sebagainya). Di dalam menghadapi cobaan hidup, ternyata kesabaran ini sangat penting untuk membentuk individu/pribadi unggul. Hal ini seperti dikehendaki Allah SWT dalam QS. Ali Imran : 200, "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan) dan kuatkanlah kesabaranmu (lebih dari kesabaran musuh di medan perjuangan) dan tetaplah bersiap siaga (dengan kekuatan pertahanan di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (berjaya)."

Akhirnya, dengan dimilikinya sifat-sifat unggul tersebut, maka seseorang akan sangat beruntung karena ia mampu mengemudi hidupnya dengan "kesempurnaan". Dan kondisi demikian, membuat seseorang dapat berperan dengan baik kepada dirinya dan alam sekitarnya. Bukankah, hidup seseorang dikatakan baik, manakala ia dapat berguna bagi orang lain?

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.